Wisata Sejarah Ke Pulau Bunga, Tempat Pengasingan Bung Karno

POSTKETIGA.COM – Kampung Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) antara tahun 1934-1938 adalah daerah terpencil, dan sangat tepat untuk mengasingkan seseorang. Di daerah kecil yang menghadap laut selatan yang menurut penduduk sekitar merupakan laut ganas itu kian terasa terasing karena dikelilingi perbukitan terjal di bagian timur, barat, dan utara.

Membayangkan kondisi daerah Ende yang seperti itu , mungkin itulah yang jadi pertimbangan pemerintah kolonial Belanda mengasingkan Bung Karno sebagai tahanan politik. Tujuannya adalah agar Bung Karno terputus dari komunikasi dengan rekan seperjuangannya dan menyerah pada pemerintahan kolonial.

Namun, ternyata upaya yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda adalah misi yang sia sia. Sebab, terlepas pada awalnya Bung Karno sempat stres karena dipaksa memutus komunikasi dengan rakyat serta rekan seperjuangannya, tetapi di tempat pengasingan itulah justru Bung Karno melalui renungan, cermin masyarakat lokal yang plural serta penuh dengan kegotongroyongan butir-butir luhur yang kemudian dinamai Pancasila bisa dia gali dengan mendalam.

Akhirnya Pancasila itulah yang menjadi dasar memerdekakan Indonesia, dan kini menjadi ideologi yang menyatukan NKRI dengan keragaman dan kebhinekaan. Refleksi itulah yang dirasakan oleh ribuan masyarakat NTT di Ende yang mengikuti perayaan Hari Lahir Pancasila di Ende pada Sabtu 1 Juni, tepat di Lapangan Pancasila, samping pohon Sukun bercabang lima yang konon di situlah Bung Karno sering menggunakan waktunya untuk merenung dan membaca.

Di Kabupaten Ende inilah pada tahun 1934 hingga tahun 1938 Bung Karno diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai tahanan politik. Dalam masa pengasingan itulah, Bung Karno memperoleh kesempatan mematangkan gagasannya tentang dasar perjuangan memperjuangkan kemerdekaan bangsa.

Kini Kabupaten Ende sudah mulai menunjukkan sebagai kota yang hidup. Sudah tidak ada kesan sebagai tempat pengasingan, meski dengan topografi yang terasing. Sebab, jaringan komunikasi sudah masuk di daerah tersebut, pun demikian dengan penerbangan. Di Bandara Ende, setiap harinya selalu ada penerbangan, dengan rute Kupang dan Denpasar. Dua tempat bersejarah terkait dengan pengasingan Bung Karno juga kini telah direvitalisasi.

Taman Rendo yang terdapat pohon Sukuk dan patung Bung Karno, dan Rumah Pengasingan yang jaraknya tak jauh dari taman tersebut yakni sebuah rumah milik Haji Abdullah Ambuwaru, di Kampung Ambugaga, kini telah diresmikan sebagai situs sejarah. Sangat cocok untuk melakukan wisata sejarah.

“Endeh,  kampung  nelayan telah dipilih sebagai penjara  terbuka untukku yang ditentukan  gubernur  jenderal  sebagai tempat di mana aku menghabiskan sisa umurku.  Kampung    ini    mempunyai penduduk  5.000  kepala . Keadaannya masih terbelakang …Dalam segala hal, Endeh  di  Pulau  Bunga yang terpencil Itu, bagiku menjadi ujung dunia.”  (Soekarno, 1965 )

Sumber : Majalah Tantular tahun 2015

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: