Supersemar: Sejarah Yang Hanya Bisa Dikenang

Dalam kurun waktu sekitar 32 tahun pemerintahan Soeharto berkuasa di Indonesia (Orde Baru). Peristiwa  Surat Perintah 11 Maret 1996 (Supersemar) dianggap sebuah Sejarah yang benar dan tidak menimbulkan kontroversi yang besar pada saat itu.

Namun Ketika Presiden Habibi menampuk jabatan sebagai penguasa dinegeri ini, banyak pihak yang mencoba mengungkap dan mencari fakta terkait kebenaran dari banyaknya Cerita Sejarah yang memungkinkan fakta dan kebenaran dari Sejarah tersebut yang diaggap bias oleh banyak masyarakat Indonesia.

Semenjak Soeharto lengser, Indonesia sudah berganti 5 kali Presiden, namun misteri Supersemar hingga kini belum juga terpecahkan. Di mana naskah asli surat tersebut juga masih belum bisa ditemukan. Keraguan akan keaslian naskah Supersemar yang disimpan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) muncul setelah tumbangnya Orde Baru (Orba) pada 1998. Keraguan publik soal otentisitas surat perintah dari Presiden Soekarno ke Menteri Panglima Angkatan Darat, Letjen Soeharto, kala itu semakin diperkuat oleh beberapa saksi sejarah bekas tahanan politik Orba yang akhirnya buka suara.

Sedikitnya ada tiga kontroversi yang muncul mengenai Supersemar yang menjadi momentum peralihan kekuasaan Presiden pertama RI, Soekarno, ke Soeharto. Pertama, menyangkut keberadaan naskah otentik Supersemar. Kedua, proses mendapatkan surat itu. Ketiga, interpretasi yang dilakukan oleh Soeharto. Hal ini mencuat karena pertanyaan besar  mengenai keberadaan naskah otentik Supersemar yang hingga kini belum diketahui. Kendati lembaga Arsip Nasional Republik Indonesia menyimpan tiga versi naskah Supersemar, ketiganya diragukan keaslianya karena disebut-sebut tidak otentik.

Selain mengenai keberadaan Supersemar, proses Suharto mendaptkan surat itu pun masih menjadi misteri, selama ini guru sejarah di sekolah belum mampu menjelaskan fakta secara obyektif, mereka masih menduga-duga, karena memang fakta sejarahnya tidak ada. Mengenai Sukarno yang diancam ditembak mati jika tidak menandatangani Supersemar, dan Sukarno yang kala itu sedang sakit diobati oleh dokter hewan, itu merupakan dongeng sejarah yang tidak dapat ditunjukan fakta sejarahnya.

Selain Supersemarada juga peristiwa sejarah yang masih menimbulkan kontraversi pasca lengsernya Presiden Soeharto. Bisa kita lihat misalnya dalam kasus Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia atau yang lebih kita kenal dengan G-30-S-PKI. Dimana dalam sejarah pemberontakan tersebut hingga detik ini mungkin belum terungkap kebenaranya sehingga masih menjadi tarik ulur perdebatan yang bisa dipanaskan sewaktu-waktu.

Terkait dengan kebenaran dan Fakta Sejarah dari peristiwa Supersemar ini mungkin akan teramat sulit untuk mengungkap kebenaranya dikarenakan tokoh central dari peristiwa itu sendiri yaitu Suharto sudah meninggal, dan mungkin begitu juga dengan orang-orang atau saksi yang melihat dan tahu betul terkait kasus ini juga mungkin sudah meninggal. Sehingga jika dikembangkan  akan mengalami kesulitan dalam mencari obyektivitas sejarah.

Nyatanya hingga sudag berganti presiden sebanyak 5 kali, tidak ada yang bersungguh-sungguh mengungkap kasus Supersemar yang masih ambigu. Memang benar supersemar adalah sejarah yang hanya bisa dikenag.

Bagaimanapun fakta sejarahnya, sebagai anak bangsa masyarakat Indonesia harus dapat mengambil pelajaran, pribahasa Yunani mengatakan “Historia vitai Magistra” bahwa sejarah adalah guru kehidupan. Karena sejarah adalah guru maka mari kita ambil hal-hal yang positif dalam peristiwa tersebut. Sejarah juga prediksi masa depan, sebagaimana yang tertuang dalam Al-Quran, “wall tandzur binafsum Kodhamatt lii ghodd” perhatikan masa lalu mu untuk masa depanmu. (Jaya)*

Sumber : Catatan Perkuliahan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: