Silang Pendapat Antara GPS dan AWK Terkait Kebijakan Hari Raya Nyepi

Senator asal Provinsi Bali, Gede Pasek Suardika (GPS) dan Arya Wedakarna (AWK), memiliki perbedaan pendapat terkait kebijakan PHDI Bali. GPS mengkritisi kebijakan baru pelaksanaan hari raya Nyepi, salah satunya adalah mengenai pemutusan server internet. sementara itu AWK mendukung penuh kebijakan PHDI Bali.

kedua anggota DPD RI dari Bali tersebut melontarkan pandanganya di akun media masing-masing. Berikut postingan GPS dan AWK yang disadur dari akun facebook masing-masing :

Postingan Gede Pasek

Logika Agama Overdosis

Agama itu untuk memandu diri sendiri menuju tujuan hidup yang lebih baik. Tetapi agama juga perlu lingkungan yang baik untuk bisa dijalankan. Karena itu orang beragama memerlukan kitab suci, tempat suci, hari suci, orang suci dan ritual agama yang dianggap suci.
Namun jujur saya kaget dengan logika overdosis pengelolaan para pemangku kepentingan beragama ketika aspek internet dijadikan dasar utk Catur Brata Penyepian sehingga harus dimatikan.

Tafsir agama yang terlalu berlebihan untuk menunjukkan eksklusivitas agama justru akan mempurukkan agama itu sendiri. 

Kalau alasan adanya orang selfie di jalan itu seharusnya urusan pecalang yang bertugas. Apa paham makna internet secara global..? Komunikasi dan transaksi lintas negara yg terkait dengan di Bali akan terganggu. Email-email akan tidak bisa terkirim untuk bookingan hotel dan itu berdampak pada pariwisata. Belum lagi komunikasi maupun transaksi elektronik lainnya.
Lagi pula di kitab suci mana yang menyatakan internet itu bagian yang dilarang? Tafsir overdosis seperti ini seakan limbah sosial dari serangkaian aksi overdosis yang banyak juga dilakukan oknum2 tertentu mengatasnamakan agama. Kita sering menertawakan warung makan yang dilarang buka karena ada yang puasa. Yang puasa jadi penuh amarah, semntara penjual makanan di warung melayani pelanggan untuk tunaikan kewajiban mencari kerja yang halal.

Siapa yang mulat sarira, yang mengendalikan diri atau jalankan ajaran agama. Kadang jadi terbalik

Itu dilakukan komunitas overdosis beragama, tetapi keputusan ini dilakukan oleh lembaga resmi. Maka lembaga PHDI Bali dan MUDP dll harus mampu menjelaskan di sloka mana memasukkan internet sbg bagian dari larangan Nyepi..? Jangan halusinasi dijadikan tafsir keagamaan. Apakah PHDI Bali berbeda dengan PHDI Pusat..?

Apakah hanya di Bali ketentuan itu berlaku? Bagaimana dg umat Hindu di Tengger, di Wagir Malang, Junggo Batu, Gunung Kidul, daerah daerah Trans Bali? Apakah ajaran mematikan internet itu hanya berlaku lokal? Karena mereka juga menjalankan Nyepi. Apakah keputusan PHDI Bali ini sudah si kron dengan PHDI Pusat..? Atau kreativitas sendiri saja? Apa boleh begitu membuat tafsir sendiri?

Sebab akan sangat bahaya bila ajaran Hindu dinilai ajaran yang konyol dan tidak adaptif serta akomodatif terhadap kemajuan jaman.
Kalau logika yang disosialisasikan itu dipakai alasan internet untuk off, maka seharusnya listrik harus dimatikan dari PLN secara total, penjual gas elpiji harus dilarang menjual gas nya sebelum Nyepi agar tidak dipakai masak semua penghuni di Bali saat Nyepi dll.

Agama memang memerlukan lingkungan yang baik untuk bisa tumbuh kembang, tapi juga jangan lebay memaksakan pemahaman pribadi atas nama kelembagaan untuk hal-hal konyol. Bangun lingkungan beragama dengan baik, kita yg harus mengendalikan diri dari godaan kok malah yang diluar diwajibkan menahan godaan. Aplgi tidak menghitung risiko transaksi keuangan, komunikasi jaringan internet yg sama sekali tidak mengganggu umat beragama krn dia berjalan di alam maya.

Sebaiknya latih dan bina Pecalang agar bisa cegah orang selfie, berikan kesadaran beragama bagi umat dan ingat Hindu itu Sanatana Dharma. Sehingga dia akan tetap hidup sepanjang masa.
Mari mulat sarira, jangan jadikan alasan Nyepi yang begitu unik di dunia ini dengan berbagai tuntutan yang makin tidak masuk akal. Sehingga bukan kekaguman yang terjadi, tetapi malah sebaliknya.
Sebagai orang Hindu, maka dengan keterbatasan pemahaman terhadap sastra suci maka Saya tidak sepaham dengan logika yang dibangun untuk menghentikan akses internet hanya untuk menghormati orang yang menjalankan nyepi.

Saya pun menyarankan agar semua yang terkait urusan penyedia internet untuk tetap saja melayani masyarakat di “alam maya”. PHDI Pusat juga sampai sekarang belum bersikap, termasuk kemungkinan mengeluarkan Bhisama soal ini. Hindu kini tidak hanya di Bali. Di beberapa desa di Jawa juga menjalankan tradisi yg sama dengan di Bali jalankan Catur Brata Penyepian.

Itu sikap Saya, dan bagaimana sikap anda silakan? Akan saya hormati!
Yang pasti saya cukup menjadi penganut Hindu yang wajar bukan yang latah ketularan overdosis beragama. Walau membangun pasraman, Saya akan tetap menuntun anak-anak untuk beragama yang menyehatkan cipta rasa karsanya. Agar kelak mereka bisa menterjemahkan beragama untuk kebahagian dirinya dan sekaligus masyarakat sekitarnya.

OM Shri Narasimha Dewa. (GPS)

Postingan Arya Wedakarna

Semeton, perjuangan agar menjadikan Bali itu unik didunia bukanlah perkara gampang. Perlu idealis yg tinggi, dan pengorbanan. Setiap Zaman akan melahirkan anak anak zaman, dan seharusnya anak muda di zaman kita ini harus mendukung sejarah baru demi kelestarian budaya. Terkait dgn larangan menggunakan internet yg disampaikan oleh para pemuka agama, pemerintah dan aparat keamanan TNI/Polri adalah hal wajar, karena menyimak tahun tahun sebelumnya, banyak pelecehan agama Hindu yg lahir dari medsos. Dan lagipula, tujuannya baik yakni SIPENG, menjadikan umat Hindu tdk terikat dengan hal hal duniawi. Secara prinsip saya mendukung keputusan ini, mengingat keputusan ini diambil bukan oleh orang perorang tp oleh institusi yang berkompeten. Ngiring Mulat Sarira. Jangan ribut sesama braya.

Hargai Guru Wisesa ( Pemerintah ). Semua tokoh agama sampun menyepakati. Jadikan Bali Unik, dan fokus pada Catur Berata Amati Lelanguan ( Pantang Menghibur Diri dan Melakukan Kesenangan ). Lagipula ada manfaat hebat dgn dilarangnya internet hanya untuk 1 hari saja, yakni setiap anak, setiap orang tua dan setiap keluarga, mereka dipaksa untuk meluangkan waktu untuk Quality Time bagi keluarganya. Tradisi berkumpul, pabligbagan dibale bale rumah kita sdh agak hilang setelah invansi Smart Phone n Internet.

Jadi mari biarkan kita “break” sesaat dari teknologi agar Bali bisa menjadi teladan baik. Anak muda Hindu, bantu program ini dgn berbicara, berpikir, berbuat baik. Bagi yg keberatan, ada cari bijak tanpa mengganggu kedaulatan Bali : Kemas Koper, Pergi Keluar Bali dan Nikmati Internet Sepuasnya Diluar Bali, terpenting jangan bicara SARA. Tapi bagi mereka yang ingin merasakan keunikan Bali, bagaimana hebatnya Bali yg mengatur teknologi, Bali yg menutup Bandara dan Pelabuhan, Bali yang tanpa polusi, Bali yang tanpa televisi dan TV kabel, AYO datang ke Bali 😎 dan nikmati vibrasi satu satunya pulau didunia yg berbudaya Hindu yg sangat bangga akan kebudayaannya. This is Bali ( AWK )

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: