Menyoal Pendidikan Zaman Old Vs Zaman Now

The roots of education are bitter, but the fruit is sweet. (Aristoteles)

Menurut Undang-undang nomor 20 tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasan belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi di dalam diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, keperibadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Pada dasarnya pendidikan adalah memanusiakan manusia, demikian seorang filsuf Yunani ( baca : Plato), mengemukakan gagasanya, dalam buku-buku usang yang sudah jarang disentuh olehkids zaman now.

Pada umumnya pendidikan dibedakan menjadi dua yaitu, pendidikan formal dan pendidikan non formal. Pendidikan formal adalah pendidikan yang didapat dengan mengikuti program yang tersstruktur dan terencana oleh institusi pemerintah. Sedangkan pendidikan non formal adalah pendidikan yang bisa didapat dengan menjalankan aktivitas kehidupan sehari-hari baik individu atau kelompok yang tentunya tidak terikat oleh institusi pemerintah.

Pendidikan di Indonesia sudah ada jauh sebelum negara ini di proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Berangkat dari sejarah pendidikan Indonesia, bahwa pendidikan di Indonesia bermula ketika berakhirnya masa pra sejarah. Hal tersebut dibuktikan dengan penemuan yupa peninggalan kerajaan Kutai, dengan demikian para sejarawan sepakat bahwa pendidikan di Indonesia bermula pada abad ke IV diawali dengan penyebaran agama Hindu yang disebar oleh kaum berkasta Brahmana dari India kemudian didirikanlah kerajaan Kutai oleh Kudungga.

Kemudian pada abad ke VII keberadaan kerajaan Sriwijaya jugu turut serta dalam perkembangan pendidikan di Indonesia, dimana pada saat itu kerajaan Sriwijaya menjadi pusat pendidikan agama Hindu di kawasan Asia Tenggara. Demikian pula kerajaan-kerajaan Islam pada masanya. Pengaruh kerajaan Islam dalam bidang pendidikan ditandai dengan munculnya berbagai lembaga pengajian. Sejak abad ke XV pesantren telah digunakan sebagai lembaga pengajian dan pendidikan agama Islam.

Perkembangan pendidikan di Indonesia terus berlanjut pada masa konolial, Munculnya pendidikan pada waktu itu tidak semata-mata untuk mencerdaskan bangsa Indonesia, tetapi lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan tenaga kerja bagi Belanda. Munculnya STOVIA (Shool tot Opleiding van Indische Artsen) merupakan langkah awal sejarah organisasi pergerakan di Indonesia. Dari  STOVIA lah terlahir tokoh-tokoh pembaharu dengan lahirnya beberapa organisasi pergerakan nasional yang diawali berdirinya Budi Utomo.

Sejarah adalah akumulasi dari  peristiwa atau kejadian-kejadian yang dibuat manusia. Meminjam istilah Yunani “Historia Vitai Magistra”, sejarah adalah guru kehidupan. Faunding Father kita telah belajar banyak tentang rentetan sejarah pendidiksn bangsa ini, pendidikan memang menjadi persoalan utama. Semenjak revolusi Indonesia berakhir, pendidikan sangat mudah diakses. Pada zaman presiden Sukarno banyak anak bangsa yang disekolahkan keluar negeri. Kemudian lembaga-lembaga pendidikan baik yang formal dan non formal terus berkembang pesat hingga dewasa ini. Tak hanya lembaganya bahkan jumlah guru dan pelajar terus meningkat jumlahnya.

Tidak ada lagi alasan untuk anak miskin tidak bisa sekolah, atau bahkan putus sekolah, karena banyak lembaga pendidikan yang menggeratiskan bagi anak yatim atau anak yang kurang mampu secara finansial. Beasiswa tersedia dimana-mana, alasan pendidikan mahal hanyalah seruan bagi orang-orang yang tidak mau bekerja keras. Berkembangnya pendidikan di Indonesia hingga saat ini terus dibumbui persoalan. Seperti persoalan kebijakan sistem pendidikan, ketika ganti menteri ganti pula kebijakanya, belum lagi ditambah persoalan para pelajar, atau para oknum guru. Di media sering memberitakan terkait tindak kriminalitas yang dilakukan oleh pelajar dan guru. Hal itu merupakan dinamika dalam perkembangan pendidikan di Indonesia.

Berangkat dari dinamika perkembangan pendidikan di Indonesia, semua steakholder harus bersama-sama mengevaluasi secara total untuk menuju pembaharuan dan perbaikan. Kita sudah sering mengganti, menambah, mengurangi sistem pendidikan di negeri ini. Tapi jika kinerja institusi pendidikan terutama tenaga pengajar tidak mau berubah kearah yang lebih baik. Apapun sistem pendidikannya, sebagus apapun sistem pendidikanya jika tidak diimbangi up grading institusi pendidikan atau tenaga pengajar maka hasilnya akan sama saja.

Teknologi berkembang begitu pesat bak panser raksasa yang siap menggilas bangunan dan penghuninya yang tak mau maju atau bergeser kearah yang lebih baik. Barang siapa yang tidak mau mengikutui perkembangan zaman maka ia akan tergilas oleh zaman. Seorang guru harus bisa mengikuti atau bahkan melebihi zaman dengan inovasi-inovasinya. Pepatah kuno mengatakan “guru kencing berdiri siswa kencing sambal berlari” sebuah pepatah yang mengglitik para tenaga pendidik. Selain harus mengikuti perkembangan zaman guru juga harus menjadi teladan bagi siswanya karena guru adalah cerminan dari ahlak siswanya.

Menurut Undang-undang nomor 14 tahun 2005. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dengan tupoksi dan tanggungjawab guru seperti demikian, kiranya guru harus mampu memformulasikan atau meramu bagaimana cara mendidik di era kids zaman now. Karena tuntunya mendidik kids zaman now tidak bisa disamakan dengan cara mendidik kids zaman old.

Perkembangan teknologi berdanpak pada kurikulum 2013 mata pelajaran Teknik Informasi dan Komunikasi (TIK), tidak lagi menjadi mata pelajaran melainkan dijadikan sebagai media pembelajaran. Dengan demikian para guru harus kreatif dan jeli dalam penggunaan teknologi sebagai media pembelajaran. Karena jika para siswa dilepas begitu saja, dikhawatirkan mereka akan menjadi korban budayaMcdonaldisasi dimana segala sesuatu dikerjakan dengan cepat saji namun tidak memiliki sesuatu yang khas, karena dikerjakan secaracopy paste dengan hasil yang sama dari sumbernya. Yang perlu diingat oleh para guru adalah metode pembelajaran kurikulum 2013 siswa harus dituntut lebih aktif, kreatif dan inovatif dalam menggunakan media pembelajaran. Jika siswa mengerjakan sesuatu hanya asal jadi dan sama dengan yang lainya maka disitulah budaya Mcdonaldisasisudah mendarah daging.

Penggunaan smart phone sudah tidak asing lagi dikalangan kids zaman now. Tapi apakah penggunaan itu sudah tepat guna? Banyak cara untuk menggunakan smart phonesebagai sarana pembelajaran. Khususnya di mata pelajaran sejarah. Seperti misalnya penggunaan media sosial. Agar siswa selalu membaca peristiwa sejarah, siswa disarankan mem-follow akun-akun twitter atau instagram yang aktif membagi peristiwa sejarah, dengan demikian akan muncul ditampilan beranda.

Kemudian agar siswa lebih peka terhadap kondisi lingkungan sekitar siswa diberi penugasan menguplod foto-foto terkait perubahan lingkungan sosial disekitar tempat tinggalnya. Selain itu juga untuk mengasah public speaking, dan keterampilan acting, siswa diberi tugas untuk membuat video kunjungan ke situs-situs sejarah atau museum dan kemudian hasilnya diupload ke youtube yang kemudian bisa dishare ke media sosial. Jika itu menarik bukan tidak mungkin akan ada banyak orang yang memviralkan. Untuk aktifasi sehari-hari siswa dapat diarahkan untuk menginstal aplikasi game sejarah di playstore.

Sementara itu untuk metode pembelajaran di kelas juga harus dibuat menarik dan simpatik. Awalnya banyak siswa menganggap pelajaran sejarah sangat membosankan apalagi disampaikan dengan metode ceramah,  karena selalu berbicara siapa, kapan, dimana, dan apa. Jika pelajaran sejarah diterapkan dengan pertanyaan bagaimana (sebab-akibat) dan mengapa (proses terjadi) maka itu akan lebih menarik dengan metode pembelajaran diskusi, karena siswa akan diajak berpikir kritis dan analitis. Sesekali untuk menghilangkan rasa penat dikelas. Buatlah game tradisional  atau ice breaking yang masih berhubungan dengan materi yang dibahas.

Knowledge is power, Demikianlah pernyataan yang dikutip dari Francis Bacon. Pernyataan tersebut jelas mengungkapkann pentingnya pendidikan bagi manusia. Sumber pokok kekuatan manusia adalah pengetahuan. Dengan pengetahuanya manusia akan terus maju dan perkembang kearah yang positif dan negative. Mengapa demikian? Karena tidak diimbangi oleh etitut dan keterampilan. Perlu ditekankan kembali bahwa dalam kurikulum 2013, penilaian meliputi tiga aspek yaitu afektif (sikap), kognitif (pengetahuan), dan psikomotorik (keterampilan). Dalam kurikulum sebelumnya penilaian difokuskan hanya pada satu aspek saja yaitu kognitif. Jadi tidak heran banyak orang pintar di negeri ini  bermental korup karena etitutnya rendah. Banyak pula orang pintar susah mencari kerja karena keterampilanya rendah.

Ketiga aspek penilaian tersebut harus benar-benar dijalankan sebagaimana mestinya. Harapanya kita tidak lagi menyiapkan para peserta didik yang bermental pekerja, pilihanya hanya ada dua. Menjadi penguasa (pemimpin) atau menjadi pengusaha. Jika menjadi pemimpin maka mereka (baca: siswa) diharapkan mampu mensejahterakan rakyat melalui kebijakan-kebijakan dan program kerja yang dibuat. Dan jika menjadi pengusaha maka bisa membuka lapangan pekerjaan. Bayangkan jika satu kelas yang berjumlah 50 siswa dan mencetak minimal lima pengusaha maka yang 45 siswa bisa memilih bekerja dilima perusahaan tersebut. Apa jadinya jika ini menjadi gerakan nasional. Tidak ada lagi pengangguran di negeri ini. Dan pemimpin bisa menjalankan amanahnya tanpa korupsi.

Demikianlah kiranya untuk mendidik di era kids zaman now. Atau zaman milenial yang viral dikalangan penghuni dunia maya sebagai generasi kebanyakin micin, sehingga dianggap bodoh, monoton, lelet, dan sempit pemikiranya. Semoga penyebutan tersebut hanyalah lelucon dikalangan penghuni dunia maya. Kita yakin generasi emas itu akan datang, jika pendidikan sudah benar-benar memanusiakan manusia. Mari yakinkan dengan iman, usahakan dengan ilmu, dan sampaikan dengan amal. (Jaya)*

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: