Kabut Hitam di Lumbung “Matahari”

Sulawesi Tenggara (Sultra), merupakan salah satu pemasok atau lumbung suara terbesar bagi Partai Amanat Nasional (PAN). Pada pemilu 2014 PAN berhasil meraup suara sebanyak 9.481.621 atau 7,59 persen, secara nasional. Dari hasil tersebut Sultra menyumbang suara sebanyak 271.231 dan mendapat 9 kursi di DPRD.

Pencapaian suara PAN di Sultra terbilang fantastis, namun kepapercayaan masyarakat yang telah memilih PAN, baik ketika pemilu maupun pilkada tidak dibayar dengan kerja-kerja jujur dan ikhlas untuk membalas konstituen yang jelas-jelas memiliki animo dukungan yang besar terhadap PAN atau kandidat yang diusung oleh PAN.

Partai dengan simbol matahari tersebut, sedang mengalami kabut hitam, Alih-alih ingin bersih dari korupsi justru malah terjerumus dalam lubang korupsi. Hal ini tidak sejalan dengan usaha-usaha PAN dalam ikut serta memerangi korupsi.

Read: Ocehan Zulkifli, Terkait LGBT jangan Dijadikan Jualan Isu Tahun Politik

Sebagaimana yang sempat disamapaikan Zulkifli Hasan ketua umum PAN ketika mendukung Sudirman Said di Pilgub Jateng. Pria yang juga merupakan Ketua MPR tersebut lebih memilih memberikan dukungan kepada Sudirman Said karena dinilai memiliki rekam jejek tidak pernah tersangkut atau disebut dalam sekandal korupsi. Hal ini jelas menohok lawan Sudirman said yaitu Ganjar Pranowo yang pernah disebut dalam sekandal mega proyek E-KTP.

Memang tidak ada yang permanent dalam politik. Partai yang dinilai paling berintegritas di Sultra ini, pada kenyataanya diselimuti sekandal korupsi oleh beberapa pimpinan dan mantan pimpinan daerah di Sultra. Berikut ini daftar sekandal korupsi para pemimpin di Sultra :

Samsu Umar, ia merupakan mantan Bupati Buton Sultra, yang terjerat korupsi karena telah menyuap mantan ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar.

Nur Alam, mantan Gubernur Sultra ini, telah merugikan negara sebesar Rp. 4,3 T dengan kasus pemberian izin tambang nikel.

Adriatma Dwi Putra, Wali Kota Kendari ini terseret dugaan suap proyek pembangunan jalan Bungkutoko, Kendari New Port.

Asrun, ia merupakan Wakil Wali Kota Kendari yang ikut dijerat kasus yang sama dengan Adrian Dwi Putra.

Dari sekian deretan kasus korupsi yang dilakukan kader PAN di Sultra, tentunya akan mengurangi kepercayaan masyarakat Sultra kepada PAN. Tidak ada yang bisa diharapan lagi, kecuali PAN harus segera berbenah untuk memancarkan kembali matahari yang tertutup kabut hitam. (Jaya)*

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: