Guru Honorer; Antara Pengabdian dan Kesejahteraan

Derita guru honorer di negeri ini seolah isu politik, yang terus terjadi tanpa akhir. Kisahnya bak drama film yang selalu menyisakan kepiluan. Dari kasus guru yang dipenjara gara-gara menegur siswanya, guru yang dilecehkan dalam kegiatan belajar mengajar, sampai penganiyayaan terhadap guru hingga sang guru menjemput ajalnya.

Semangat revolusi mental yang digaungkan dalam pemerintahan Presiden Jokowi justru mengalami cacat mental. Belum ada program strategis untuk menanggulangi masalah pendidikan di negeri ini. Padahal APBN dalam bidang pendidikan telah dianggarkan mencapai 20%. Presentase ini sangat fantastis jika dibandingkan dengan presemtasi APBN bidang lainnya. Tapi perubahan kearah yang lebih baik, seolah mengambang dipermukaan.

Perubahan kurikulum dari KTSP menjadi Kurtilas, belum mampu merubah kearah yang positif, padahal sistem dan metodenya sudah dibuat sedemikian rupa. Aspek penilaian Afektif, Kognitif, dan Psikomotorik dikatrol sedemikian rupa, selain intelektualnya siswa siswa juga  diajarkan bagaimana ia mengembangkan kreatifitasnya dan yang paling penting adalah sikapnya kepada rekan dan gurunya.

Terus, jikalau pendidikan dirasa belum ada kemajuan dimana salahnya? Apakah guru yang kurang memahami sistem Kurtilas? Apakah memang siswanya susah diatur karena terkena candu gedjet? Apakah orang tuanya di rumah yang tidak ikut serta memantau proses belajar anaknya? Atau memang karena pemerintah kurang memperhatikan kesejahteraan guru, sehingga para guru mencari pekerjaan sampingan diluar jam mengajar. Semuanya salah jika saling menyalahkan satu sama lain, yang harus kita lakukan adalah sama-sama mengevaluasi di ranahnya masing-masing.

Pasca pembunuhan seorang guru oleh murid yang terjadi di Sampang Madura, jagat media sosial dihebohkan dengan kasus tersebut. Mereka yang lahir di era orde baru menilai siswa di zaman Jokowi jauh berbeda jika di banding dengan generasi yang terlahir di orde baru, di mana mereka sangat hormat, patuh, dan sayang terhadap guru. Sedangkan di generasi saat ini siswa berani membangkang, melecehkan, bahkan membunuh guru. Terkadang perilaku kriminal yang dilakukan oleh siswa didukung oleh orang tuanya.

Hal senada juga dirasakan oleh Sri Winarti, Guru di salah satu Sekolah Dasar (SD) di Indramayu, Jawa Barat. Guru yang akrab disapa Bu Wina ini menuturkan “ zaman saya SD, masih takut sama guru, dan saya selalu menganggap guru adalah orang tua di sekolah. Patuh serta taat kepada peraturan sekolah. Orang tua di rumah pun 90% mensupport anaknya agar maju, dan mendukung program-program sekolah”. Bu Wina menambahkan bahwa siswa zaman sekarang sudah berani melawan guru, bahkan perilaku demikian dianggap mereka hal yang wajar, selain itu mereka juga tidak takut dihukum jika berbuat salah, dan bahkan tidak menganggap guru sebagai orang tuanya di sekolah.

Sadar akan tugasnya sebagai guru sangatlah berat, bu Wina tak mudah putus asa. Sebagai guru zaman now, ia tahu apa yang harus dilakukan kepada siswa zaman now. Baginya menanamkan dan mengimplementasikan pendidikan budi pekerti masih sangat relevan untuk menanamkan  nilai-nilai moral untuk siswa zaman now. Tugas guru bukan hanya mengajar ia juga harus menjadi teladan, mengevaluasi, mengawasi, ditambah lagi mengurus administrasi para siswa seperti rapot dan sebagainya.

Meskipun gajinya hanya Rp. 300.000,- per bulan, bu Wina tidak pernah mengeluh, justru ia sangat bersyukur. karena ia sangat ikhlas dan tulus mendedikasikan ilmu, waktu, dan tenaganya untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebagaimana amanah mukodimah Undang-Undang 1945. Kendati demikian bu Wina tidak pernah menuntut banyak kepada pemerintah. Ia hanya berharap pemerintah Indramayu segera menetapkan SK bagi guru honorer, sebagaimana yang sempat ia janjikan. Agar para guru honorer mendap gaji sewajarnya. Karena tidak semua guru bisa menerima gaji yang tak wajar. Karena kebutuhan setiap guru berbeda-beda, apalagi guru yang sudah berkeluarga dan punya anak, pasti kebutuhan hidupnya tinggi.

Tak sedikit guru yang memiliki profesi sampingan seperti menjadi guru les, buka usaha kecil-kecilan, dan profesi lainya. Hal tersebut dikarenakan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Jika hanya mengandalkan dari gajinya sebagai guru honorer tentu akan sangat kurang karena gajinya tak wajar. Agar guru bisa full mengajar, mengevaluasi, memonitor, atau mengawasi siswa tentunya pemerintah harus memberi gaji yang sewajarnya untuk para guru honorer. Jika pendidikan adalah memanusiakan manusia, maka sebagai steakholder pendidikan guru juga harus dimanusiakan oleh pemerintah.

Dari sekian banyak kasus dan tindakan yang tak pantas dilakukan oleh para siswa, Bu Wina berpesan kepada seluruh wali murid atau orang tua siswa diseluruh Indonesia, agar memberikan perhatian lebih kepada anak, memberikan kasih sayang yang utuh kepada anak, ikut serta mengajarkan nilai-nilai agama, moral, sosial, dan sopan santun. Karena bagaimanapun orang tua terutama ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Orang tua jangan pernah membentak, berbicara kasar kepada anaknya ketika ia sedang melakukan kesalahan. Karena hal tersebut bisa tersimpan dalam ingatannya dan bisa saja ia akan mengulangi ucapan/perilaku orang tuanya kepada teman-temannya di sekolah.

Bu Wina merupakan salah satu potret guru honorer di Indonesia. Masih banyak Bu Wina lainya yang bisa jadi nasibnya kurang bagus dari Bu Wina. Ibarat pribahasa, Guru digugu lan dituru. Jika pemerintah ingin pendidikan Indonesia Maju, maka sejahterakanlah para gurunya. (Jaya)*

 

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: